Terbaru

CERPEN : HIjrah

Written By Ldk Unrika on Senin, 04 Mei 2015 | 20.20


Hidayah itu milik Allah, Dia beri kepada mereka yang mencari. Jika ada manusia yang mencelamu, senyumlah. Katakan pada hati “aku berubah karena Allah, bukan karena manusia”
“sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan bisa member hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan Allah lebih tahu orang-orang yang mau menerima” (QS.Al-Qashash: 56)
“Hidayah itu ibarat cahaya. Ia tidak akan menyapa kamar yang tidak dibuka jendelanya…”
Dan buatku, hidayah itu adalah “cinta”. Bentuk kecintaan Allah ta’ala kepada hamba-Nya yang bisa Dia berikan kapan saja, kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dimana saja dan dengan cara yang luar biasa tentunya yang telah diatur sedemikian sempurnanya atas Kuasa-Nya.

Ingat tidak dengan ucapan lidah tak bertulang ini mengenai seseorang? Tentang penampilannya yang kala itu agak risih dipandang mata (hanya dalam pandanganku dan segelintir kerabatku yang memiliki pemikiran yang sama seperti aku). Lupa kapan waktu tepatnya, yang jelas berbulan-bulan yang lalu ketika diri ini masih “jahil akan ilmu”. Ya, walau sekarang pun masih belum penuh memahami tapi setidaknya sedang mencoba belajar sedikit demi sedikit untuk membenarkan yang terlanjur salah dalam diri meski banyak rintangan yang perlu dilewati, butuh kesabaran yang ekstra, memerlukan tingkat kelapangan hati yang besar agar mampu menampung apa saja yang mereka komentari mengenai diri ini. Semoga Allah ta’ala selalu memudahkan jalan untuk hamba-hamba-Nya yang ingin menjadi lebih dekat kepada-Nya. Aamiin
Sejak kapan aku begini?, Jawabannya adalah sejak aku merasa Allah menegurku melalui tingkah-tingkah ku yang konyol yang pernah kulakukan beberapa bulan yang lalu. Menegurku melalui orang-orang baik yang kucela. Hmm, dan bukan itu yang ingin kutuliskan blue. Aku hanya sedang ingin mengoceh tentang cara berpakaian ku saja. Kau lihat bagaimana cara berpenampilanku sekarang blue? Ada perbedaankah dengan aku yang dulu?. Tentu blue, aku berbeda. Telah ku tanggalkan celana-celana jeans yang biasa kukenakan ke kampus, tidak lagi dengan jilbab yang terlilit sana-sini dileher dan dikepala seperti sebelumnya, tidak juga dengan baju yang pendek, transparan dan kurang bahan layaknya baju yang pernah kupakai dulu dengan bangganya. Sekarang Alhamdulillah atas izin Rabb yang Maha membolak balikkan hati manusia, aku lebih suka mengenakan gamis, lebih mudah tertarik untuk membeli gamis-gamis yang berwarna gelap, meski kadang masih tetap jatuh cinta dengan si biru. Aku lebih nyaman saat mengguanakan jilbab yang menutupi dada dan lenganku hingga ke siku, walau masih banyak sekali jilbab ukuran biasa yang di gantung berjejeran di dalam lemari. Masih ku pakai, ya masih ku pakai dengan melapisinya menjadi 2 helai lalu ku ulurkan menutupi dada. Benar-benar membuat diri menjadi terjaga.
Nyaman, itulah yang aku rasakan sekarang. Kadang tak sungkan aku mengenakan jilbab yang panjangnya benar-benar menutupi smua lenganku hingga tak tampak. Ingin punya banyak, tapi untuk sekarang kufikir pelan-pelan dulu. Aku masih bisa memakai jilbab-jilbab yang ada dengan tanpa melanggar aturan yang syar’i. Insya Allah.
Ngomong-ngomong masalah terjaga, pernah satu ketika saat aku dalam perjalanan pulang ke Tanjungpinang di dalam ferry, aku begitu merasakan dekatnya Allah padaku dan sungguh Dia tengah menjagaku kala itu. Seperti biasa, setiap naik ferry aku memang selalu memilih untuk duduk dibagian pinggir dekat jendela. Padahal jendela ferry jelas tidak bisa dibuka loh, entah kenapa aku suka duduk di tepi jendela. Mungkin alasannya karena dapat melihat ke luar dan bisa memandang indahnya panorama lautan lepas. Iya kurasa seperti itulah alasan kenapa aku lebih suka memilih untuk duduk di dekat jendela. Hihihi. Nah langsung saja pada kejadian yang ingin aku ceritakan blue.
Saat itu aku duduk di kursi yang berjejer 3 dan aku duduki kursi yang paling ujung. Awalnya kosong 2 kursi di sebelahku. Kalaupun berisi waktu itu, kuharap yang duduk disitu adalah seorang ibu beserta anaknya yang masih kecil. Ternyata tidak, satu menit sebelum kapal lepas jangkar dan jalan, seorang laki-laki yang bisa kuperkirakan umurnya sekitar 30 tahunan duduk di kursi bagian ujung. Jadilah kosong di tengah-tengah. Aku pun masih sibuk dengan telepon genggamku sambil ber-sms ria dengan dewi mengabari bahwa aku sudah dalam perjalanan. Kapalpun jalan, dan tiba-tiba ada seorang laki-laki yang duduk di sebelahku.
Tepat disebelahku, dia mengisi kursi tengah yang memang saat itu kosong. Mulai merasa risih aku, sebab dia duduk dekat sekali denganku. Dan untuk mencoba menghindari rasa risihku tadi, aku keluarkan Al-Qur’an yang selalu aku bawa didalam tas kemana pun aku pergi. Aku baca dengan terus menundukkan kepala tanpa mau melihat kesampingku. Tak lama setelah itu, laki-laki yang duduk dikursi bagian tengah itu pun pindah ke belakang, tanpa aku tahu apa penyebabnya. Sembari iya bicara dengan temannya yang ada di belakang “ah aku di sini ajalah bang duduknnya”. Aku bersyukur saat itu, seketika langsung merasa nyaman dan dijaga oleh Allah. Aku percaya bahwa Dia akan selalu menjaga kita bila kita berusaha untuk menjaga diri kita. Bukankah Dia adalah Dzat yang Maha Melindungi? Alhamdulilah segala puji bagi Allah. 
Kembali kepada masalah penampilan blue. Bukan satu hal yang tidak mungkin ketika sebelumnya seorang wanita yang sering bahkan selalu disebut oleh banyak orang sebagai cewek “tomboy” lantas dengan berjalannya waktu, dengan semakin ia tahu bahwa ada yang salah dari dirinya, dengan niatnya yang kuat untuk belajar menjadi lebih baik dan memperbaiki, ia berubah dan merubah penampilannya dengan tiba-tiba. Anehkah? Tergantung dari setiap mata dan jiwa yang memandang lalu memberi penilaian. Tidakkah aku dulu seperti itu? Saat aku melihat perubahan yang terjadi pada seorang teman sekelasku sebut saja namanya “cinta”. Aku menilai bahwa penampilannya terlalu lebay, aneh dan sederet fikiran negative lainnya. Padahal tidak ada yang salah, sesungguhnya malah perubahannya positif. Hanya saja kala itu aku masih dengan fikiran yang di tutupi keindahan dunia. Sampai pernah sekali aku berkata pada sahabatku “apa jadinya ya jika saja aku berpakaian seperti itu datang ke kampus?” Dan nyatanya sekarang, aku tengah termakan oleh semua yang pernah kukatakan mengenai teman sekelasku itu. Kena batunya sendiri. Alhamdulillah, sungguh jika saja orang baik-baik yang di kata-katai maka lambat laun kita akan sadar bahwa kitalah yang bersalah karena menghina mereka yang benar di jalan Allah.
Aku menjadi aku yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Jika dulu aku berucap dalam hati “panas banget pasti mengenakan jilbab lebar seperti itu” “risih lah melihat orang yang pakaiannya besar-besar kayak begitu” “ah fokus berbaiki diri saja dulu barulah penampilan” “lagi pula kayak beginikan juga menutup aurat dari pada gak pakai jilbab sama sekali”
Ah rasa-rasanya menyesal sekali pernah berceloteh ria didalam hati dengan kalimat-kalimat seperti itu. Tapi ya mungkin itulah jalan Allah ta’ala untuk menyadarkan hamba-Nya yang penuh dengan dosa ini. Kesalahanku sering mengata-ngatai orang, tidak mereka balas dengan ucapan-ucapan kasar, malah mengakui akan kekurangannya dan mengajak diri unutk sama-sama melihat kesalahan, yang hingga akhirnya terketuk pintu di sudut hati untuk mencari cahaya kebenaran. Lalu ku mulai semua itu dari cara berpakaian. Perbaiki fisik, maka Insya Allah hati akan mengikuti dengan sendirinya. Serta jangan lupa untuk rajin-rajin meng-charge iman dengan melaksanakan yang wajib, merutinkan yang sunah, zikrullah, sedekah, membaca al qur’an dan terjemahannya, menghadiri majelis ilmu dan perbaiki lisan pelan-pelan jika memang tak bisa langsung total menjadikan lisan lebih baik dari sebelumnya.

Ini adalah sedikit pengalaman aku menuju perubahan seperti sekarang ini blue. Berharap hijrah ini bukan hanya untuk kemaren dan hari ini, tapi untuk selamanya agar bisa menyandang gelar khusnul khotimah. Semoga kita yang tengah berhijrah tetap istiqomah di jalan-Nya dan semoga Allah semakin banyak mempertemukan kita dengan orang orang baik yang juga tengah mencari dan menuju hidayah-Nya.

Sabtu, 9 Dzulhijjah 1435 H

tentang penulis 
Man Jadda wajada, demikian lah moto hidup dara kelahiran 12 mei 1992 di Tanjungpinang ini, bungsu dari 8 bersaudara ini menuliskan kisahnya berikhtiar dan berhijrah. tidak akan ada yang menyangka mahasiswi yang sehari-harinya berpakaian (hijab) lebar ini adalah seorang aktifis Menwa (resimen mahasiswa) senior. putri ibu asnaniah ini sudah aktif berorganisasi sejak masih duduk di bangku SMP.

cerpen ini adalah hasil dari curhatannya pada blue. diary warna biru kesayangannya yang menjadi saksi perubahan dan gejolak dalam dirinya hingga membawanya memilih istiqomah berpenampilan syar'i seperti saat ini. 

 “Hidayah itu ibarat cahaya. Ia tidak akan menyapa kamar yang tidak dibuka jendelanya…” sebaris kalimat pembuka yang luar biasa. metalia lena nama gadis penulis kisah ini. semoga kisah ini menginspirasi

2 komentar :

  1. Balasan
    1. semangat juga mbak mulyani, kami tunggu tulisan mbak mulyani ya :D

      Hapus

Kalam

Kalam
Edisi 28 April 2016

join us

join us
klik

FSLDK INDONESIA

FSLDK INDONESIA
Klik gambar