Terbaru

Home » , , , , » Sami’na Wa Atho’na (kami dengar dan kami taat)

Sami’na Wa Atho’na (kami dengar dan kami taat)

Written By Ldk Unrika on Senin, 15 Juni 2015 | 00.14

Mungkin sebagian kita sering mendengar kata “Sami’na Wa Atho’na” atau bisa jadi kalimat ini sudah populer dia antara kita. Namun sudah kah kita memahami dan mengamalkan maksud sami’na wa atho’na yang telah allah sebutkan didalam al quran seperti yang allah sebutkan dibawah ini.

Allah berfirman:

7.[1] Ingatlah karunia Allah kepadamu[2] dan perjanjian-Nya[3] yang telah diikatkan kepadamu, ketika kamu mengatakan, "Kami mendengar dan kami menaati."[4] Dan bertakwalah kepada Allah[5], Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati[6] (Al- Maidah : 7)

Dalam ayat yang lain allah berfirman:


”Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa : 59)

Ayuhal ikhwah rohimakumullah
Apakah kita sudah merasa mengamalkan makna sami’na wa atho’na dengan mengerjakan perintah allah saja seperti shalat, puasa, zakat, dan lain lain?

 Ayuhal ikhwah rohimakumullah
Pertanyaan selanjutnya, sudahkah kita membaca dan memahami maksud dari ayat-ayat diatas, sudah sejauh mana kita mengamalkan maksud dari ayat diatas?

Ayuhal ikhwah rohimakumullah
Mari sejenak kita ingat kembali beberapa kisah sejarah tentang ketaatan yang mungkin kita semua sudah baca:
1.       Kisah ketika nabi ada ibrahim meninggalkan anaknya yang masih kecil dan seorang wanita yang ia cintai di sebuah lembah yang tandus dan susah untuk mendapatkan sumber makanan, sang bertanya kepada nabi ibrahim. Sang istri bertanya mengapa kau tinggalkan kami disini?, namun nabi ibrahim tidak menjawab sama sekali dan pertanyaan ini d ulain sampai 2 kali, mengapa kau tinggalkan kami disini?, namun nabi ibrahim tetap tidak menjawab. Lalu sang istri bertanya sekali lagi, apakah allah yang memerintah mu? Nabi ibrahim menjawab Ya. Lalu sang istri berujar pergilah wahai suami ku karena allah tidak akan menyiah-nyaiahkan kami.
2.       Kisah kedua ketika nabi ismail yang sudah tunggu-tunggu kehadirannya karena sudah lama nabi ibrahim belum punya anak, namun ketika remaja tulunlah perintah untuk menyembeli nabi ismail, namun ungkapan yang sangat luar biasa yang muncul dari seorang anak yang shaleh, lakukan lah ya abi jika itu perintah dari allah, insya allah kita termasuk orang yang sabar. Lalu nabi ibrahim melakukan tugasnya, kemudian allah ganti dengan domba.
3.       Kisah ketiga ketika datang perintah isra dan mi’raj nabi muhammad saw, ketika rosulullah saw mengabarkan pristiwah ini kepada para sahabat maka mereka lansung taat dan mengimaninya. Dan ketika berita ini sampai ke orang kapir mereka malah meledek muhammad saw sebagai orang gila, tidak waras dan sebaginya.
4.       Kisah ke empat adalah kita ketaattan pada perang badar, walau pun pasukan muslimin ketika itu sangat sedikit namun karena ketaat (sami’na wa atho’na) kepada pemimpin, maka allah berikan kemenangan terhadap pasukan kaum muslimin ketika itu. Tetapi allah kalahkan kaum muslimin ketika di perang uhud karena ketidak taatan (sami’na wa ashoyna) kepada pemimpinnya
5.       Dan kisah terakhir adalah kisah pasukan jalut menujuh perang melawan thalut, jalut memerintahkan pasukannya untuk tidak meminum air ketika melewati sungai kecuai hanya secukupnya namun banyak pasukan yang tidak taat, kecuali hanya sedikitsaja yang taat, dan allah binasakan orang-orang yang tidak taat pada pemimpinnya. Walau pun ketika itu allah berikan kemenangan kepada pasukan jalut waktu itu.

Sebenarnya masih banyak lagi kisah-kisah tentang sami’na wa atho’na ini yang bisa kita pelajari, namun sejatinya penulis hanya ini memberikan ilustrasi tentang ketaatan dan buah atau hasil dari ketaatan itu sendiri.
Islam tidak akan seluas ini pemeluknya jika para da’i, ustads, ulama kalau tidak taat kepada allah, rosulullah, dan para ulil amri. Dan ketaatan kepada ketiganya bersifat wajib.
Kalau ketaatan kepada allah dan rasullnya sudah kita ilustrasikan di beberapa kisah di atas, sekarang kita coba untuk mengilutrasikan ketaatan kepada ulul amri:
1.       Ada sebuah organiasasi/lembaga/perusahaan besar yang memiliki 1000 karyawan, dan 20 supervisor,dan satu orang jeneral manager untuk mengatur perusahaan tersebut. Kemudian sang jeneral manager memiliki visi dan misi tersendiri, dan supervisornya juga memiliki visi dan misi tersendiri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan para karyawan yang seribu orang ini bingun. Suvervisor yang satu suruh begini, suvervisor yang satunya lagi suruh yang berbeda lagi.
Kemudian kira-kira apa yang akan terjadi dengan organisasi/lembaga/perusahaan ini, apakah makin maju dan sejahterah karyawan/ anggotanya atau malah sebaliknya perusahaan bubar dan bangkrut.

2.       Ada sebuah organisasi/lembaga/perusahaan kecil yang hanya memiliki 50 sampai 100 karyawan saja dan memiliki 3 sampai 5 suvervisor dan seorang manager. Namun visi dan misi menager dan supervisor dan karyawannya sama antara satu dan yang lainnya. Ketika ada perintah dari manager maka supervisor dan karyawannya lansung mengerjakan sesuai dengan yang diperintahkan. Menurut anada kira-kira perusahaan ini apakah akan maju atau malah lebih mudur?
Dari ilutrasi diatas anda sudah pasti bisa menjawab sendiri dan kita yakin anda juga sudah paham apa yang harus dilakukan atau jalan yang harus anda pilih. Yang intinya adalah wajib mentaati pemimpin, selagi pemimpin tersebut tidak mengajak kepada bermaksiat kepada allah dan rasullnya.
Wa’lahu ‘alam

Aprin Sani
Dewan LDK UNRIKA (2014-2015)
Comments
0 Comments

0 komentar :

Posting Komentar

Kalam

Kalam
Edisi 28 April 2016

join us

join us
klik

FSLDK INDONESIA

FSLDK INDONESIA
Klik gambar