Terbaru

(Cerpen) Silma dan Joko Arit

Written By Ldk Unrika on Senin, 25 Mei 2015 | 19.01

“Teman-teman, ayok main petak umpet. Aku capek lari-lari terus” sigempal mencoba menberi ide permainan baru. Sadar tak lagi kuat berlari dan mengejar. 
“AYOOOOK!” seru seluruh anak di lapangan itu. Mereka pun mulai berjejer rapat hendak mengundi siapa yang akan menjadi kucing dan kali ini sepertinya yang beruntung adalah sigadis kecil itu
“Silma kamu jadi kucingnya ya!” seorang gadis bertubuh lebih kecil dari yang lainnya. Paling muda dan yang paling tepat untuk di bodoh-bodohi. Beberapa bocah tertawa geli menyadari ada rencana licik untuk menjahili silma. Silma yang tak sadar meski hampir setiap hari menjadi korban kejahilan manut-manut riang dijadikan kucing. Bocah yang belum teratur menghitung itu berbalik menghadap pohon dan menutup matanya.
“1,2,4,6,3,6,3,7… udah belum?” dia benar-benar belum pandai berhitung dan Tanyanya pun tak mendapat respon dari dari teman-temannya. Perlahan ia berbalik dan mulai mencari di tegnah lapang yang sepi. Ia masih belum sadar dipermainkan. Silma terus mencari disemua tempat. Di balik batu, balik semak, dalam selokan, di bawah daun pisang,  dan ditempat-tempat lain yang tak mungkin manusia bersembunyi disitu. Bocah yang semangat ini tak menyerah begitu saja dan semua tempat disisirnya. Tinggal satu tempat yang belum. Agak keringat dingin ketika ia menyadari bahwa hanya tempat itu yang belum iya periksa. Awalnya ragu namun seakan mau tak mau ia harus memeriksanya juga. Perlahan dan takut-takut. Silma masuk kedalam hutan dan menghilang dibalik pepohonan.
Seorang wanita paruh baya terlihat cemas. Langkahnya diayun tergesa-gesa dimalam yang kian larut. Dari satu rumah kerumah yang lain. Wanita paruh baya ini mencari silma, wanita ini tak lain adalah ibunya silma. Bocah itu belum kembali hingga malam ini. Cemas kian memuramkan wajah sang ibu. Seluruh desa ricuh. Semua laki-laki dikerahkan untuk mencari silma. Mereka khawatir silma masuk kedalam hutan yang selama ini mereka tahu di tinggali oleh makhluk jahat.
“Bagaimana ini. Kalau anak itu sampai masuk ke hutan bagaimana. Apa kita harus mencarinya di hutan?” orang orang desa itu saja takut untuk kesana. Cerita yang beredar d masyarakat hutan lebat itu ditinggali makhluk buas jelmaan iblis yang suka memakan manusia. Bahkan menurut cerita warga yang berkembang sejauh ini, Pencari kayu dihutan sudah banyak yang menjadi korban. Makhluk itu kanibal, dia akan membunuh dan memakan bagian perut mangsa dan meninggalkan bangkainya. “Bagaimana kalau joko arit memangsanya?” seorang pemuda yang terlihat tangguh saja berbisik gemetar ketakutan. 
Didalam hutan silma mulai kebingungan. Gelap disegala arah mulai menakutinya. Nyamuk-nyamuk besar melahap tetes-tetes darah silma tanpa ampun. Gadis kecil itu meringis kesakitan isak tangisnya tak berani ia keluarkan dengan keras. Dalam benaknya ia takut suara tangisnya akan membangunkan makhluk buas yang tak lain adalah joko arit. Silma mengenang jika saat ini ia berada dirumah, ibunya akan mendongeng tentang joko arit yang memakan anak-anak hingga ia tertidur. Tapi malam ini angin malam yang dan hutan lebat penuh misteri inilah yang mendongeng untuknya. Mata silma tak lepas dari waspada. Kiri-kanan ia pantau dengan hati-hati. Langkahnya dijinjit lembut agar tak berisik. Ia mencoba mencari jalan keluar dari hutan yang gelap. Namun ia terpaksa berhenti. Terhenti oleh sosok yang menghadangnya di depan. Sosok berambut panjang acak-acakan agak bungkuk dan tangan-tangan kekar, bau dan kumal. Sosok itu terlihat sepintas mirip monster tapi nyatanya ia adalah manusia biasa. Silma menatapnya bingung. Makhluk itu lebih mirip anak sebayannya yang tercebur kedalam comberan. Dan tiba-tiba.....
“AAAAAAAA….!” Silma teriak dengan kerasnya kaget bukan kepalang. Mahluk itu terperanjat dan mundur membentuk kuda-kuda, mengacung aritnya dan menyeringai. “Dasar bodoh, kenapa kamu tidak pakai celana?” silma serapah penuh geram melihat sosok didepannya yang telanjang bulat. Sosok itu tak hentinya menyeringai dan mengacung-acung aritnya.  “sini aku pakaikan kain ini!” teriak silma sambil mencoba memakaikan jilbab ungunya sebagai celana untuk makhluk itu, namun makhluk telanjang yang kurang suka disentuh itu agaknya ketakutan dan pergulatan tak terhindarkan lagi antara makhluk hutan telanjang yang bayu pohon lapuk dan anak gadis bodoh yang tidak tahu kalau sosok yang didepannya adalah joko arit. “nah kalau begini kan mendingan” kata silma penuh kemenangan setelah berhasil memenangkan pergulatan dan memakaikan makhluk itu celana. Joko arit merasa gatal dan tak henti menggaruk-garuk ia mencoba melepaskan jilbab yang kini diubah menjadi celana namun ia harus mengurungkan niatnya karena arit di tangan silma mengancamnya. Keadaan berbalik. Dan kadaan ini sangat lucu, mereka menyadarinya dan silma tertawa terbahak-bahak. 
“siapa namamu?” silma mencoba bertanya hendak mengenal makhluk yang ia percaya termasuk manusia. Tapi berkali kali ditanya makhluk itu hanya bengong.” Kamu ini bodoh sekali ya, sudah besar tidak pandai bicara, mau aku ajari? nanti aku ajarin kamu cara berhitung.” 
Siapa yang peduli untuk mengajarinya bicara, mengajarinya berhitung atau memakai pakaian, joko arit begitulah orang mengenalnya. Orang mengenalnya sebagai sosok jelmaan iblis yang berkeliaran dihutan menebar teror dan ancaman bagi warga yang mencari kayu di hutan. Joko arit ia disebut. Makhluk yang hanya mandi jika hujan turun di hutan. Bau kayu lapuk dan tak terurus rambut terurai busuk tak terpangkas.
“Begini saja. bagaimana kalau nama kamu joko arit saja?” silma masih belum sadar kalau sosok didepannyalah adalah joko arit. “ibu kamu pernah cerita tidak tentang joko arit?” silma kembali bertanya. Silma tidak akan paham dari mana joko arit  akan dengan cerita tentang dirinya, joko tidak akan mengerti apa yang silma katakan tapijoko kenal siapa dirinya. Seorang anak hubungan gelap keluarga bangsawan dan rakyat biasa ini harus dibuang untuk menutupi aib kerajaan. Bertahun-tahun  hidup bersama aritnya dihutan. Makan apa saja asal bisa hidup. Dilepaskan ditengah belantara dan menjadi tuna cinta. Joko arit telah hidup 8 tahun tanpa cinta. Menjadikannya tumbuh sebagai monster buruan  paling menakutkan warga desa. Warga akan memburunya untuk dibunuh karena kabar tentang si kanibal joko arit sudah begitu meresahkan. Padahal mereka juga tau bocah ini kanibal dari pembual yang menakuti bocah-bocah agar menjauhi hutan. Mereka tidak peduli dalam hutan, dalam gelapnya hutan, dinginnya malam saat dihutan ada manusia tuna cinta yang dibuang untuk melindungi kehormatan. Tidak ada yang mengajarinya bicara, memakai pakaian dan memberinya makan. Semua takut padanya dan menjadikannya dongeng horor agar anaknya tertidur dan semua berfikir bagaimana bisa memusnahkannya. Tidak ada yang berfikir bagaimana cara mencintainya. Kenapa?.
Pagi menjelang saat silma terus mengoceh tentang dongeng joko arit kepada joko arit. Berharap joko arit takut dan dan tertidur tapi nyatanya mereka berdua begadang sampai pagi dan “kruuuuk “ terdengar suara perut silma yang kelaparan. Ia mulai meringis memegang perutnya. Lupa kalau semalam suntuk ia begadang dan tak sesuap nasipun masuk ke perutnya. Joko si manusia hutan tau. Itu pertanda perut yang lapar dengan sigap ia berlari meninggalkan silma dan menghilang di balik semak-semak. Tak lama setelah itu joko kembali menggenggam kancil yang masih berdarah. Joko lalu membelahnya menjadi dua bagian dan menyodorkan separuhnyanya kepada silma. Joko bermaksud menyuruh silma memakannya dan saat joko hendak memakannya “PLAKSZZZ.” Kepala joko dipukul dengan ranting oleh silma yang terlihat geram. “ ini harus dimasak dulu!” joko tampak bingung dengan ucapan silma yang ia tahu silma sedang komat-kamit tidak jelas. Selama ini dia memang hanya makan-makanan mentah. Silma lalu membuatkan api dan membakar kancil itu. Joko arit masih belum paham dan hanya melihat. Setelah beberapa saat dan kancil itu matang. Silma memberikannya kepada joko dan menyuruhnya makan. Untuk makanpun silma harus mengajarinya, daging yang masih panas itu ditiupnya lalu perlahan melahapnya. 
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Silma menjalani hidup sebagai silma sianak periang kini usiannya menginjak remaja demikian juga joko arit. Setiap hari silma keluar masuk hutan diam-diam dan bermain dengan makhluk yang menakutkan bagi kebanyakan orang. Silma mampu mengubah monster itu kembali menjadi manusia.
“silma!” seseorang yang tak lain joko arit memanggil dari atas pohon. Sosok itu melompat dan mendarat tepat didepan silma. 8 tahun dan silma berhasil mengajarinya bicara. Tapi dia tetap makhluk hutan yang bau kayu lapuk. Setidaknya ia sudah tidak lagi makan kancil mentah. Silma mengajarinya tentang dunia yang ada dibalik hutan. Menceritakan tentang dunia yang indah dibalik pepohonan lebat ini dan semua kedamaian di luar sana. Sudah berkali-kali silma mengajaknya keluar untuk hidup normal seperti manusia lainnya. Tapi bayang-bayang kebencian orang-orang diluar sana begitu membuat mantan monster itu ketakutan. Sesekali ia yakin tapi kemudian semua buyar. Silma yang telah mengenalnya sekian lama paham ketakutan sahabatnya.
“Silma apa benar diluar sana indah?” Tanya arit
“Ya, sangat indah. Kamu harus keluar dan buktikan omonganku”
“Aku takut. Mereka akan memburuku.”
“Kau manusia. Tidak ada manusia yang berhak membunuh manusia” silma mencoba meyakinkan sahabatnya simanusia bau kayu lapuk
“Silma kenapa diluar sana banyak manusia  dan didalam sini aku sendiri?”
“Kamu tidak sendiri. Aku ada disinikan?”
“Tapi kamu akan kembali ke desa. Tiap malam aku sendiri, maksudku. Kenapa diluar sana ramai sekali orang?”
“Karena mereka berkembang biak”
“Apa itu berkembang biak?” pertanyaan ini membuat silma harus menjawab secara bijaksana.
“Hidup manusia harus berlanjut. Karena itu Allah menhadirkan cinta dihati manusia. Manusia akan bersatu dan memiliki keturunan”
“Cinta, apa itu?” sejauh ini kata ini lah yang tak pernah didengar walau kehadiran silma adalah wujudnya. Kendati mereka berdua sama-sama tidak menyadari.
“Itu perasaan kita merasa aman, damai dan bahagia bila berada didekat seseorang. Lalu mereka akan saling memahami, menjaga dan melindungi satu sama lain dari bahaya” 
mendengar ini arit merasakan sesuatu yang aneh. Merasa hal yang pernah ia rasakan namun tak tahu kapan itu. 
“Joko, sudah petang. Aku harus pulang” silma pun beranjak meninggalkan joko arit yang masuk dalam lamunannya akan kata-kata silma. Apakah dia mulai jatuh cinta pada silma?.
Malam ini begitu  dingin. Arit menatap desa tempat tinggal silma dari puncak pohon yang tinggi. Jauh matanya menerawang silma tak hilang dari benaknya. Ada perasaan yang bergejolak didada dan menyesakkan. Malam ini ia merindukan mentari esok jauh lebih rindu dari sebelumnya. Ya, dia merindukan kehadiran sang mentari kehidupan yang menyinari hidupnya selama ini. Kehadiran silma adalah kehadiran cinta. Silma adalah perwujudan cinta yang sesungguhnya. Silma yang memberitahu padanya tentang dunia di balik hutan ini. Dan timbullah tekat dalam hatinya  untuk keluar dari belantara ini. Dia akan keluar dan menyatakan cintanya pada silma. Dia sudah yakin bahwa inilah cinta itu.
Namun tekatnya terperanjat oleh asap yang terlihat dari arah desa. Fikirannya langsung mengarah pada silma. Digelapnya hutan lebat arit berlari satu nafas sekencang-kencangnya menuju desa. Tak henti jiwanya mengkhawatirkan silma disana.
“Bukan, bukan seperti ini dunia yang silma ceritakan” dalam hati ia menangis. Melihat bangkai manusia berserakan. Selama ini dalam hutan iya hanya melihat hal ini terjadi pada binantang. Tapi kali ini manusia bak binatang. Orang-orang berbadan jangkung dan berkulit putih, berbahasa aneh itu membunuh orang-orang yang berbahasa seperti silma. “bukan seperti ini dunia yang silma ceritakan……” hatinya terus menangis
Nganjuk 1906
Cinta itu menghadirkan damai dan bahagia. Cinta itu menjaga dan melindungi apa yang kita cintai. Cinta, Allah-lah yang menghadirkannya.
Soerang pemuda gagah, bersih dan terpancar iman dari wajahnya. Dengan syal ungu mengikat di lengan, berjalan menuju barisan pasukan belanda yang berjejer dengan barikade rapih.
“aku utusan kiai dermojoyo. Pimpinan kaum tertindas, para santri dan petani. Menyatakan kesiapan kami syahid di jalan Allah membela hak-hak kaum kami. Kami atas nama bangsa yang mengesakan Allah, menolak segala bentuk kerjasama dan kesepakatan dengan para belanda kafir. Dan siap menumpahkan darah diatas tanah nenek moyang kami. ALLAHUAKBAR”
Seorang pemuda, bersenjatakan arit. Terlahir sebagai monster yang dibuang dihutan. Karena cinta, kini ialah sang pujangga pejuang pembela hak bangsanya. Melaju menuju syahid. Demi Allah dan kenangan tentang silma dimasa silam.

Lupi Sakura

Comments
0 Comments

0 komentar :

Posting Komentar

Kalam

Kalam
Edisi 28 April 2016

join us

join us
klik

FSLDK INDONESIA

FSLDK INDONESIA
Klik gambar