Terbaru

Home » , , , » (OPINI) Menyiapkan Diri Menjelang Ramadhan

(OPINI) Menyiapkan Diri Menjelang Ramadhan

Written By Ldk Unrika on Kamis, 28 Mei 2015 | 17.48

Kata teman saya, mau tahu Ramadan sudah dekat atau tidak lihat saja iklan sirup di televisi. Kalau iklan sirupnya sudah banyak berarti bulan Ramadan semakin dekat. Tampaknya itu yang kita rasakan saat ini. Bulan Ramadan segera tiba. Tak terasa dalam hitungan sebulan lagi karena kemarin bulan Syaban telah menjelma. Kita akan menjalani bulan penuh berkah dan rahmat ini. Akan tetapi, tidak banyak umat muslim yang mengerti dan paham tentang hikmah Ramadan. Kalau pun mengerti tidak banyak yang memaknai dan membuat menyiapkan diri untuk menyambut bulan yang mulia ini.
Menjelang bulan Ramadan yang mulia Rasulullah SAW berdoa, "Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah (umur) kami kepada bulan Ramadhan."  Doa ini menggambarkan bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang dirindukan. Kalau kita rindu kepada seseorang tentu banyak hal yang kita persiapkan dan seyogyanya kalau kita mengaku muslim sudah saatnya kita menyiapkan diri untuk menyambutnya.
Ada empat persiapan yang harus kita lakukan. Pertama, Niat yang sungguh-sungguh. Ketika Ramadhan menjelang banyak orang berbondong-bondong pergi ke pasar dan supermarket untuk persiapan berpuasa. Mereka juga mempersiapkan dan merencanakan anggaran pengeluaran anggaran untuk bulan tersebut. Tetapi sedikit dari mereka yang mempersiapkan hati dan niat untuk Ramadhan. Puluhan kali Ramadhan menghampiri seorang muslim tanpa meninggalkan pengaruh positif pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadhan hanya sekedar ritual belaka, ssekedar ajang untuk menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi esensi ibadah tersebut, jika Ramadhan berlalu ia kembali kepada kondisinya semula (www.sarkub.com).
Tancapkanlah niat untuk menjadikan Ramadhan kali ini dan selanjutnya sebagai musim untuk menghasilkan berbagai macam kebaikan dan memetik pahala sebanyak-banyaknya. Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir yang kita lalui karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah pada bulan Ramadhan ini. Ingat sabda Rasulullah Saw.: “Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”
Kedua, bertaubat dengan sungguh-sunguh. “Setiap manusia adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat” demikian sabda Rasulullah Saw. seperti yang diwartakan Ahmad dan Ibnu Majah. Di antara karunia Allah adalah selalu mengulang-ulang kehadiran momen-momen kebaikan. Ada momen yang diulang setiap pekan, bulan, tahun dan lain-lain. Ramadhan adalah salah satu dari momen tersebut yang selalu datang setiap tahun. Ketika seorang hamba tenggelam dalam kelalaian karena harta benda, anak istri, dan perhiasan dunia lain yang membuat dia lupa kepada Rabbnya, terbius dengan godaan setan, dan terjatuh ke dalam berbagai macam bentuk maksiat datang bulan Ramadhan untuk mengingatkannya dari kelalaiannya, mengembalikannya kepada Rabbnya, dan mengajaknya kembali memperbaharui taubatnya. 
Ketiga, mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan puasa dan ibadah Ramadhan lain. “Menuntut ilmu wajib setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Ilmu yang Rasulullah Saw. maksudkan dalam hadits ini adalah ilmu yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah yang Allah wajibkan kepada setiap hamba. Setiap muslim wajib mempelajari ilmu tersebut; karena sah atau tidaknya ibadah yang dilakukannya tergantung dengan pengetahuannya tersebut. 
Keempat, persiapan fisik dan jasmani. Menahan diri untuk tidak makan dan minum seharian penuh selama sebulan tentu memerlukan kekuatan fisik yang tidak sedikit, belum lagi kekuatan yang dibutuhkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan shalat sunnah lainnya, ditambah kekuatan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan beri’tikaf selama sepuluh hari di akhir Ramadhan. Kesemua hal ini menuntut kita selalu dalam kondisi prima sehingga dapat memanfaatkan Ramadhan dengan optimal dan maksimal. Melakukan puasa sunnah pada sebelum Ramadhan adalah salah satu cara melatih diri untuk mempersiapkan dan membiasakan diri menghadapi Ramadhan. Oleh karenanya Rasulullah Saw. mencontohkan kepada umatnya bagaimana beliau memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban, sebagaimana yang diwartakan Aisyah: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw. berpuasa selama sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa (sunah) lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (Muttafaq Alaih)


Membuat Ramadan Lebih Berkesan
Kita tentu tidak ingin bulan Ramadan kita dari tahun ke tahun terlewatkan tanpa kesan. Ada tiga hal yang penulis anggap perlu untuk mendapatkan goal dari bulan Ramadan sebagai bulan tarbiyah (pendidikan). Pertama, memahami pentingnya keutamaan bulan Ramadan. Kedua, menyiapkan amalan puasa di bulan Ramadan. Ketiga, indikator keberkesanan bulan Ramadan dan cara membuat agar Ramadan tahun ini menjadi berkesan. Nah, ketiga poin di atas menurut penulis penting untuk kita ketahui lebih dalam sebelum kita menjalani beragam tantangan dan ujian di bulan Ramadan.
Point pertama, memahami pentingnya keutamaan Ramadan. Sesuai dengan Alquran dan hadist terkait tentang bulan Ramadan kita dapat menyimpulkan bahwa sedikitnya ada enam keutamaan yang diperoleh yaitu pertama Ramadan adalah bulan ibadah. Pada bulan ini umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan ibadah khusus (puasa) dan disunnahkannya amalan lain.
Ini merupakan bukti, bahwa Allah SWT memang mengkhususkan bulan ini dengan banyak ibadah kepada-Nya untuk kembali menyucikan hati-hati kita. Kedua, Bulan Alquran (Syahrul Quran). Bulan Ramadan, yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran. Hal ini sebagaimana Firman Allah dalam QS Al-Baqarah: 185., “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
Sehingga memang pada bulan ini seyogyanya kita memperbanyak membaca Alquran dan mengurangi pembicaraan-pembicaraan yang kurang penting. Ketiga, Bulan Jihad (Syahrul Jihad). Bulan Ramadan untuk menumbuhkan semangat jihad, sebagaimana telah terbukti di Perang Badar, Fathul Makkah, Penaklukan Andalusia. Ini menandakan bahwa kendati kita melakukan ibadah puasa bukan berarti kita loyo karena tidak makan dan minum, tapi justru kita mestinya semakin bersemangat untuk beraktivitas.
Keempat, Bulan Taubat (Syahrut Taubah) Bulan untuk banyak bertaubat memohon ampunan-Nya. Kelima, Bulan Pendidikan dan Dakwah (Syahrut Tarbiyah wa Da’wah).  Bulan mendidik diri melawan hawa nafsu dan bulan dimana syiar Islam semakin marak. Keenam, Bulan Berkah (Syahrul Mubarokah).
Inilah yang kemudian dirangkum dalam defenisi puasa yakni menahan diri dari hawa nafsu berupa lapar, haus, syahwat kepada wanita dan sebagainya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, dengan ikhlas karena mengharapkan keridhoan Allah semata. Sehingga kita mengetahui bahwa tujuan puasa adalah meningkatkan ketakwaan dan kedekatan kepada Allah SWT. “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa“ (QS Al-Baqarah:183).
Menyiapkan amalan puasa di bulan Ramadan. Amalan dalam puasa yang pertama sekali yang perlu dilakukan adalah memantapkan niat. Kedua, melaksanakan sahur dan diutamakan mengakhirkannya. “Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari Muslim). Ketiga, menjaga diri dari perbuatan dosa dan perkataan dusta.
Keempat, banyak berdoa dan istighfar memohon ampun kepada Allah, terutama istighfar di waktu sahur dan doa sewaktu berpuasa. “Tiga doa yang sangat mustajab, doa orang yang puasa, doa orang yang dizalimi dan doa orang yang musafir.” (HR Ahmad, Bukhari, Abu Dawud & At-Tirmidzi). Kelima, menyegerakan berbuka bila telah tiba waktunya. “Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.”  (HR. Bukhari, Muslim & At-Tirmidzi).
Inilah hal-hal yang apabila kita lakukan dengan khusu’, ikhlas dan sabar, maka puasa di dalam bulan Ramadan kita akan menjadi berkesan. Dan terakhir keberkesanan itu akan lahir lah sebuah perubahan dan hanya kitalah yang tahu dan mengajukan pertanyaan apakah telah terjadi peningkatan kuantitas dan kualitas pasca bulan Ramadan nanti? Semoga Allah SWT mempertemukan kita di bulan Ramadan dan semoga kita bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita kepada Allah SWT.

Oleh : Raja Dachroni (@Dachroni at twitter)
Pembina Lembaga Dakwah Kampus (LDK) STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang 

Comments
0 Comments

0 komentar :

Posting Komentar

Kalam

Kalam
Edisi 28 April 2016

join us

join us
klik

FSLDK INDONESIA

FSLDK INDONESIA
Klik gambar