Terbaru

Enam Huruf

Written By Ldk Unrika on Jumat, 05 Juni 2015 | 01.11

Segala puji bagi Allah atas segala limpahan nikmat yang hingga detik ini kita rasakan. Terkisah dalam waktu yang terus berlalu hingga terkadang kelalaian pun senantiasa menghinggapi. Nikmat iman dan Islam yang umum dianut oleh yang mengaku beragama Islam namun hanya terhias bagaikan pembeda agama yang tertera pada kartu tanda penduduk (KTP) saja dan banyak juga yang dari keturunannya beragama Islam mau tidak mau ia menyandang setatus agama yang mulia ini. Tanpa keingin tahuan untuk menggali ilmu yang terdapat di dalamnya, dan kebanyakan tata cara ibadah hingga muamalah yang sebenarnya amat indah bila dipelajari. Kita ketahui bersama hingga saat ini warga muslim hanya mengetahui berbagai hal tersebut dari nenek moyang dan ada juga yang dihubungkan ke adat-adatan sebagai patokan hidup. Bahkan amat luas ilmu dan pembahasan yang dapat mendekatkan kita kepada Allah.

Tak lepas dari kuasa Ilahi kepada siapa cahaya hidayah itu akan Ia amanahkan. Sang penggenggam hati setiap manusia Yang Maha Membolak-balikan Hati. Tak lepas dari ikhtiar kita sebagai manusia untuk mencari hidayah tersebut dan terus berdo’a memohon pada Sang Maha Kuasa agar kita mampu dan pantas mengembannya.

Sepulang sekolah rutinitas, Asna membantu kedua orang tuanya berjualan hingga malam menjelang. Disuatu waktu, di sore hari ia tak memekai kerudung saat menjaga warung. Ada seorang pembeli yang ia kenali wajahnya. Setelah diingat-ingat, ternyata salah seorang guru yang mengajar di sekolahnya. Ia mencoba menghindar karena ada rasa segan tidak mengenakan hijab dihadapan sang guru. Namun kemudian ia menyadari sendiri dan menyadari mengapa harus menghindar dari manusia sedangkan Allah senantiasa menatap.

Sedikit goresan warna dalam perjalanan sahabat. Sebut saja Asna, remaja pendiam yang senantiasa bersahaja hidup dalam keluarga sederhana. Kisah yang penuh hikmah dengan kesyukuran atas apa yang tengah di dilaluinya. Berawal dari masuknya ia ke sebuah Madrasah Aliyah dan adanya peraturan harus berkrudung di sekolah dan di luar sekolah. Banyak siswi yang masih melanggar dan berkrudung hanya di sekolah saja. Peraturan yang begitu ketat makin membuat siswi madrasah hanya menganggap angin lalu. Setahun berlalu Asna yang saat itu dalam masa pencarian jati diri masih bimbang atas prinsip yang harus digenggam nya.

Semenjak kejadian di sore itu, Asna bertekat untuk terus berkudung di sekolah maupun di luar sekolah meski saat itu godaan terus saja datang silih berganti. Ia tetap berpegang teguh pada niatannya berjilbab.


Setelah lulus dari Aliyah, Asna melanjutkan pendidikannya ke sebuah perguruan tinggi. Masih dengan kebimbangannya, Ia memilih fakultas dan jurusan yang InsyaAllah baginya sesuai. setelah merlewati beberapa proses, Asna mulai kuliah dan menjalani hidup barunya. Semester satu Ia lalui dengan teman-teman baru dan lingkungan baru yang menyenangkan. dan dikala itulah Ia mendengar unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang tengah banyak di bicarakan. Ada dua UKM yang saat itu begitu menarik perhatiannnya. UKM yang bergerak dibidang broadcast (penyiaran radio) dan keagamaan.

Walau Asna sempat ragu. ia kemudian mendaftar dan sempat aktif dalam dunia brocast. Walau hanya berlangsung beberapa bulan dan ia merasa ada ketidak-nyamanan nurani saat berada di tempat itu. beda lagi yang ia rasakan ketika mendengar tausiyah  disuatu malam. Disebuah mushalah yang tak jauh dari ruang brocast.

Ia benar-benar merasakan ada sesuatu yang begitu ia cari selama ini dan terbersit niat untuk lebih dekat dan kenal dengan sekumpulan mahasiswa yang sering melaksanakan kegiatan disana. tapi rasa segan membuatnya sedikit mengulur niatnya. tapi yang pasti ia akan segera kesana.

Dilain hari, saat pelajaran pendidikan agama islam (PAI) Asna mendengar enam huruf yang menggugah. saat itu juga, Ia memberanikan diri untuk bergegas mendaftarkan menjadi bagian anggota rohis tersebut. Enam huruf yang karenanya ia bergegas meninggalkan broadcast. Penuh makna, enam huruf yang terlontar dari dosen PAI tersebut. Bagaikan jalan hidayah atas keraguannya selama ini. Ia bergegas mencari penjelasan enam huruf tersebut dengan lebih lengkapnya walau dosen PAI  telah menjabarkan artinya. Enam huruf yang menjebaknya dalam renungan dan menjadi pijakan untuk terus melangkah. enam huruf itu adalah "kaffah"

Enam huruf tersebut bagaikan pijakan dan teguran baginya. Penjabaran singkat yang mengartikan kaffah sebagai hal yang menyeluruh. Tak hanya tahu artinya, Asna terus menggali makna kata tersebut. Mencari tahu kesana-kemari hingga Ia menemukan ayat tentangnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ [البقرة/]208

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.” [Al-Baqarah : 208]

MasyaAllah, dari situ Ia terus belajar dan belajar mendalami agama yang selama ini Ia sandang. Yang selama ini tak bermakna dan tanpa kesungguhan Ia jalankan. Hingga penyesalan yang ia rasakan tidak bersungguh-sungguh saat berada di bangku madrasah dan ia awali semua dari awal dengan menjalani semua perintah Illahi, dengan penuh kecintaan. Hasil pencarian cahaya yang begitu indah, dan Allah membimbingnya dan mempertemukan dengan sahabat-sahabat yang penuh cinta yang, saling mengingatkan dikala suka dan duka. Sahabat yang selalu ia rindukan hadirnya. Semangatnya dan genggaman erat yang senantiasa penguat ikatan ukhuwah saat bersua dan do’a-do’a terindah yang selalu ia panjatkan teruntuk sahabat-sahabat seperjuangan di manapun berada.

"Hari-hari makin penuh makna beriringan dengan perubahan-perubahannya tidak hanya iman ku perbaharui dan kini hijab dan kerudungku mulai ku perbaiki sesuai tuntutan Rabb ku. Yang ingin senantiasa menjagaku. Perlahan dengan tidak mengunakan celana jeans lagi dan aku ganti dengan rok walau hanya beberapa rok dan gamis yang ku punya. Bergantian menghiasi langkahku mengharap ridha Illahi Rabbi" Dengan wajah sumringah Asna menceritakan.

Dan tak hanya itu sebagai hamba-Nya yang beriman, Ia yakin Allah menyayanginya dengan mendatangkan ujian padanya. Yang ia hadapi adalah penentangan dari keluarganya atas perubahan dan memperdalam agama yang dicurigai dengan mengikuti sabuah aliran–aliran. Ia hanya berusaha sabar setelah penjelasan yang terbantahkan oleh orang tuanya. Hingga Ha pernah diancam di keluarkan dari kampus. Tak terasa air mata telah berjatuhan saat Ia menceritakan padaku dan akupun tak mampu membendungnya. 

Keterasingan, cemoohan, hujatan pedas yang Ia rasakan di dalam keluarganya dan lingkungannya membuat Ia mencari dan terus belajar membaca dan menghadiri berbagai kajian membuatnya semakin kokoh dan semakin dekat dengan Allah. Ia pasrahkan semua yang terjadi pada Sang Penguasa Semesta. Walau ia selalu berharap agar keluarga dan lingkungannya Hidup dalam cahaya kasih-Nya.  Ia terus belajar dalam setiap hembus nafas. Keagungan-Nya yang ada di setiap mata memendang yang tak henti membuat jiwa selalu memuji-Nya dan istiqamah selalu menyertai hingga akhir waktu.

Comments
0 Comments

0 komentar :

Posting Komentar

Kalam

Kalam
Edisi 28 April 2016

join us

join us
klik

FSLDK INDONESIA

FSLDK INDONESIA
Klik gambar