Terbaru

Home » , » (OPINI) Paradoks Pemberantasan Prostusi (P3)

(OPINI) Paradoks Pemberantasan Prostusi (P3)

Written By Unknown on Senin, 08 Juni 2015 | 21.06

Indonesia tengah dilanda dua musim hebat. Pertama musim yang telah berhasil membawa Indonesia kembali kezaman batu. lalu musim pemberitaan prostitusi yang katanya sedang diberantas.  Bahkan sampai saat ini, mulai dari acara gosip hingga berita stasiun televisi silih berganti memberitakan prihal prostitusi.
kita akan bahas prostitusi itu kini. dan alangkah baiknya kita terlebih dulu angkat topi untuk walikota surabaya yang sudah berani menutup dolly. memutus ketergantungan pada prostitusi surabaya yang sudah berjalan selama berpuluh-puluh tahun. dengan tidak memperdulikan dalih dilema yang dilontarkan berbagai pihak terkait penutupan dolly, dilema jika ditutup lalu kemana masyarakat disana dan pekerja disana mencari nafkah untuk hidup. Dolly tetap ditutup, sang wali bulat tekad lepaskan ummatnya dari ketergantungan bisnis hitam.
Lalu prihal prostitusi kembali hangat akhir-akhir ini oleh tertangkapnya mucikari penjaja dagangannya yang berasal dari kalangan artis. Yang memprihatinkan adalah, berita inni jauh lebih banyak ketimbang berita yang lebih pantas didengar.
Prostitus tetaplah prostitusi. sesungguhnya ini kasus tidak berkelas jika dibanding perpanjangan kontrak freeport yang dialihkan isu kenaikan bbm. namun isu tidak berkelas ini menjadi seru ketika melibatkan orang-orang berkelas seperti para pejabat.
Penangkapan mucikari penjaja artis yang marak diberitakan dan nyaris menghiasi layar kaca kita setiap saat seakan menunjukkan keseriusan pihak berwenang untuk memberantas prostitusi, namun disaat yang sama, dikota yang sama tempat kisah pemberantasan korupsi ini seakan sebuah saga, pengkajian legalisasi prostitusi mewacana. mulai dari isu sertifikasi hingga apartemen khusus. pemberantasan dan peng-legal-an, dua upaya berbeda yang kemudian membentuk paradoks, Paradok pemberantasan prostitusi.

Pemberitaan yang mencuci otak.
Dalam paradoks ini tergambar tindakan-tindakan tidak cerdas orang-orang yang terlibat didalamnya. mulai dari penberitaann oleh media yang terlalu berlebihan dan narsisnya aparat penegak hukum hingga harus membeberkan semua fakta di lapangan kepada khlayak nyaris secara timeline. ini adalah salah satu tindakan yang menciptakan paradoks itu.
kita akan bahas kesalahan media terlebih dahulu. masih terlalu banyak berita yang jauh lebih pantas dan mendidik ketimbang pemberitaan prostitusi yang harus disampaikan berulang-ulang. bahkan reportasenya nyaris seminggu penuh. ada resiko yang mungkin tak terduga dibalik niatan baik mereka (media dan aparat penegak hukum). Berita yang mereka suguhkan akan menjadi pendidikan yang tak kan mampu disortir dampak baik dan buruknya, terutama bagi anak-anak. tingkat kecerdasan masyarakat kita dalam memilah tontonan amatlah rendah. Ditambah lagi kesadaran dalam pengawasan terhadap anak-anak mereka saat menonton juga tidak baik. bayangkan saja jika pemberitaan prostitusi ini terekam dalam memori anak-anak, mungkin sekarang mereka tidaklah begitu faham namun ini akan menjadi masalah dikemudian. Mereka akan cenderung akrab dengan sugesti negative dari pemberitaan prostitusi. Mereka akan terbiasa mengucapkan kata-kata semisal mucikari, germo, psk, lokalisasi dan hal-hal yang berhubungan dengan prostitusi. semua ini terjadi disaat niatan kita yang baik untuk memberantas prostitusi tidak kita kerjakan dengan cerdas.

Pemberitaan yang mendidik atau mengarahkan? 
kecanggihan media saat ini, kebebasan bersuara yang mereka dapatkan sekarang membuat media begitu leluasa menyampaikan berita sampai-sampai tidak bisa lagi dipastikan apakah para penyampai berita sudah tidak mampu lagi menyortir pemberitaan yang akan disebarluaskan. Demikian juga dengan aparat penegak hukum yang dengan baiknya mau begitu saja membeberkan fakta lapangan yang bersifat rahasia kepada media untuk diberitakan, tentu ini akan menyulitkan penyelesaian kasus. kita misalkan saja ketika kepolisian hendak menangkap buronan yang kabur dari penjara. setelah menumakan fakta-fakta lapangan, pihak kepolisian justru berkata kepada media "berdasarkan bukti-bukti di lapangan, penjahat saat ini sedang bergerak menuju utara, dan kami akan mengejarnya kesan.a" apakah kepolisian tidak tahu bahwa penjahat juga suka nonton televisi?. mendengar pemberitaan yang seperti itu penjahat kemudian mengabil arah kebarat. ini mungkin hanya Analogi saaja. ada contoh lebih jahat lagi sering terjadi.
pemberitaan pemberantasan, walaupun kecil tapi dimungkinkan ada aspek edukasi yang hendak disampaikan. misalnya mendidik masyarakat dengan slogan "prostitusi itu tidak baik" misalnya. tapi lihatlah bagaimana media menyuguhkan pemberitaannya saat ini. banyak hal yang tidak semestinya dibeberkan. tarif dan inisial artis yang terlibat prostitusi disebarluaskan. ini justru akan mempublikasikan pada masyarakat bahwa artis-artis mana saja dan berapa tarifnya. lalu mereka juga menyampaikan bagaimana alur pemesanan artis-artis tersebut. desawa ini, hal seperti ini tidak bisa lagi disebu pemberitaan tapi mengarahkan


Menjadikan dosa sebagai solusi dosa lain
Hal paling sering dilakukan orang-orang yang tidak menggunakan hukum agama dalam membuat kebijakan adalah menggunakan kesalahan yang satu untuk menjadi solusi bagi kesalahan lain. Gubernur ibukota menebar wacana sertifikasi PSK dan pembuatan appartemen khusus yang akan dijadikan semacam lokalisasi.
Dengan dalih bahwa legalisasi prostitusi akan mengontrol dan melokalisi penyebaran pengaruh buruk prostitusi tapi sekaligus sebuah kampanye hitam bahwa para aparat telah melegalkan tindakan asusila yang dampak kedepannya adalah mencuci otak masyarakat hingga terbentuk paradigma bahwa prostitusi adalah kewajaran.
ketahuilah pemimpin sekarang mungkin bisa berdalih demikian tapi ketahuilah dampak jangka panjangnya. bukankah ini sudah bisa disebut memberikan contoh yang buruk?.
pemimpin yang cerdas dan mampu bertindak bijak adalah pemimpin yang mampu menghadirkan altirnative ideal. bukan malah menhadirkan solusi yang seakan-akan kita tengah disajikan buah simalakama dan dengan begitu saja mengatakan tidak ada solusi lain. ketahuilah, kita akn berfikir jernih jika semua dikembalikan kepada Allah. dan ketahui pula bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya,

solusi
hanya ada satu solusi, berantas. dan jika ditanyakan lalu bagaimana dengan para pekerja yang bergantung pada bisnis haram ini? apakah masih bisa memulung?. ini bukan perbuatan hina jika dibanding usaha haramm yang selama ini dijalankan. banyak rezeki bertebaran dan silahkan makan yang halal lagi baik.

Saiful Karama Teibang
Ketua Remaja Masjid Alif
Staf Humas LDK UNRIKA
Comments
0 Comments

0 komentar :

Posting Komentar

Kalam

Kalam
Edisi 28 April 2016

join us

join us
klik

FSLDK INDONESIA

FSLDK INDONESIA
Klik gambar