Terbaru

(Resume) Tahap Pengembangan Dakwah Kampus

Written By Ldk Unrika on Sabtu, 06 Juni 2015 | 03.42

(menegakkan 5 budaya intelektual)

Meresume tulisan tentang tahapan pengembangan lembaga dakwah kampus seakan-akan kita tengah meresume sebuah Sirah Nabawiah. Karena tahapan yang dirinci oleh Ridwansyah Yusuf Achmad merupakan sebuah pengaplikasian sirah nabawiah. Setiap tahapan-tahapan yang ia tulis adalah langkah-langkah dakwah yang dilakukan Rasulullah. Sehingga bagi yang pernah mengkaji sirah tentu akan merasakaan de javu.
Paling tidak untuk tahap pembangunan lembaga dakwah kampus yang ideal adalah dengan melalui 3 tahap dan pada masing-masing tahap terdapat beberapa point utama yang harus terpenuhi. Tiga tahap tersebut yang pertama adalah membangun basis inti. Basis inti ini merupakan basis ashabikuunal Awwalun, Orang-orang pertama. Dalam hal ini harus benar-benar dikader hingga memiliki 3 kapasitas utama sebagai kader inti antara lain berkepribadian muslim, memiliki kredibilitas dan moralitas pemimpin, serta kuat dalam pengembangan dan pemanfaatan kemampuan khusus (bakat) lain.
Pada point 1 dan 2 adalah point yang sederhana dan sering kita dengar, namun pada point ke 3, kemampuan khusus lain adalah point yang jarang diperhatikan pada fase pembentukan kader. Seorang kader inti tidak hanya perlu dibekali ilmu-ilmu agama saja. Tapi minat dan bakatnya perlu diarahkan agar ia tetap menjadi seorang kader yang tetap dirinya namun terwarnai oleh nuansa Islami, jika ia seorang musisi, maka tidak akan masalah jika ia menjadi seorang musisi berkarakter Islami. Tanpa kita sadari hal-hal seperti ini kedepannya dapat menjadi alternative pendekatan kepada kader-kader baru. Disinilah kaderisasi itu sangat berperan.
Tahap kedua adalah membangun basis massa. Ketika basis inti sudah terpenuhi dan kapasistasnya sesuai harapan, maka tugas membangun basis massa selanjutnya menjadi milik para basis inti yang telah dididik. Kaderisasi akan mengawasi proses dan perkembangan mereka. Disini kadang ada hal unik terjadi ketika basis massa yang terbangun sering kali merupakan orang-orang atau kelompok yang memiliki ketertarikan sama dengan agen basis inti. Misalnya basis inti yang memiliki hobby menulis yang kemudian akan mulai merangkul rekan-rekannya satu komunitas penulis. Ada pepatah dari timur yang mengatakan bahwa jika kamu ingin menangkap rusa maka berfikirlah seperti rusa. Komunitas tertentu akan mampu dikuasai dengan mudah oleh orang dalam komunitas tersebut. Untuk itu minat dan bakat seorang kader perlu diarahkan. Karena ada satu cara berdakwah yang mulai jarang digunakan sejauh ini, dakwah dengan melayani.
Kebanyakan target dakwah menghindar ketika kita cenderung datang dengan cara-cara klasik kita, datang dan ceramah sementara umat memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu yang kadang sangat perlu di turuti. Rasullullah lebih dulu menjadi pelayan mekkah sebelum ia menaklukkan dan memimpin mekkah. Ketika reputasinya sudah terbangun sebagai orang yang baik, jalannya seakan mulus namun Allah menyisipkan gejolak dalam perjalanan dakwahnya sebagai contoh bagi kader dakwah berikutnya bahwa memperjuangkan kebenaran tidaklah mudah kendati Allah bersama kita.
Pada dasarnya, menjadi pelayan dan menjadi pemimpin adalah hal yang sama.lalu bagaimana aplikasi dakwah dengan melayani itu?. Jika dalam lingkungan kampus, kita dapat membuat seminar-seminar atau workshop untuk rekan-rekan mahasiswa. Tentu ini adalah hal yang sangat mereka butuhkan. Keterlibatan mereka dengan kita perlahan akan membawa mereka semakin dekat dengan Lembaga Dakwah Kampus kita.
Ketua Umum PP Kammi periode tahun 2009-2010, Rijalul Imam pernah menulis hal seperti ini sebelumnya. Pendekatan seperti ini disebutnya dalam buku capita selecta sebagai politik smart power. Pendekatan yang jauh dari kesan hard power dan jauh lebih cerdas dan lembut ketimbang soft power.
Setelah basis inti melakukan tugasnya dengan baik untuk membangun basis massa, langkah selanjutnya adalah bagaimana membentuk wadah LDK yang sudah direncanakan sebelumnya. Pada tahap ini yang perlu diupayakan untuk melegalakn lembaga akan dibarengi dengan pembangunan basis institusi LDK.
Skil-skil kehumasan dibutuhkan pada tahap ini. Sedari awal perencanaan, humas telah bekerja membangun citra kader basis inti. Nama-nama kader basis inti akan digunakan sebagai proposal yang akan memuluskan langkah kita melegalkan lembaga kita dalam kampus. Karena tahap menaklukkan birokrasi kampus bukanlah hal yang terlalu sepele. Kita harus memiliki tawaran-tawaran yang mampu meyakinkan pihak birokrasi kampus. Tentu semuanya akan lebih mudah jika jauh sebelum ini kita telah membangunn jaringan dengan pihak birokrasi kampus terlebih dahulu sehingga momen pengajuan proposal pembentukan LDK bukanlah menjadi saat pertama kita berurusan dengan birokrasi kampus. Hingga kita jauh dari kesan “datang ketika ada maunya”.
Jika semua tahap dirunut secara sempurna atau bahkan 90% sempurna. Maka bisa dijamin LDK telah terbentuk. Setelah terbentuk apa yang perlu kita lakukan selanjutnya?
Ini akan pekerjaan akan jauh lebih banyak, lebih menantang dan lebih berat jika harus dibandingkan dengan membentuk LDK. Sederhananya yang perlu kita lakukan adalah menjaga eksistensi LDK yang sudah kita bangun.
Dalam belajar dan beramal, ada hal penting yang sering dilupakan oleh manusia khususnya ummat islam. Lupa ini merupakan sebuah pelanggaran fitrah seorang pembelajar.
Ketika Rasullullah berdiam dalam gelapnya gua hiro, apa kata pertama yang diperintahkan kepadanya?. Ikro’ (bacalah). Setiap pekerjaan wajib dikerjakan dengan ilmu jika tidak tunggulah kehancurannya. Gerbang ilmu adalah buku/kitab. Jika masih ada malas dalam menjelajahya disanalah setiap upaya pembelajar mentah.
Raja Dachroni pernah mengatakan seorang mahasiswa wajib menegakkan 3 budaya. Budaya baca, menulis dan diskusi.
Ketika kita menghadapi sebuah masalah, kita membutuhkan 10 atau bahkan 20 buku untuk menjadi acuan kita menemukan teori yang akan kita gunakan untuk memecahkannya. Setelah itu semua yang kita temukan dalam bacaan akan kita rumuskan dalam sebuah tulisan baru yang berisi rangkuman-rangkuman teori dan penyelesaian masalah, lalu cobalah diskusikan dengan pakar yang lebih mengerti. Minta pandangan dan evaluasi lalu koreksi tulisaan kita.
Namun apakan hanya sampai diskusi saja?. Tulisan kita harus di ejawantahkan dalam kerja, bukti pengamalan sesungguhnya dari sebuah ilmu, kemudian evaluasi kerja kita.
Tidak dipungkiri bahwa dalam menjaga eksistensi lembaga kedepannya dipenuhi tantangan namun kita akan lebih siap jika memiliki pedoman. Dan untuk memperkaya hasanah keilmuan kita, aktifis dakwah kedepannya  wajib memegang teguh 5 budaya intelektual ini. membaca, menulis, diskusi, kerja dan evaluasi.

Budaya ini tidak hanya milik ketua LDK saja, tapi juga milik setiap kader. Sebuah lembaga ditopang oleh kerja-kerja divisi yang ada di dalamnya. Setiap divisi bekerja secara kolektif dan saling bantu dengan divisi yang lainnya agar tidak ada kepincangan. Untuk itu setiap kader diwajibkan memiliki kapasistas intelektual islami yang memadai.

Novia Nur Annisah
Sekjen LDK UNRIKA (2014-2015)
Comments
0 Comments

0 komentar :

Posting Komentar

Kalam

Kalam
Edisi 28 April 2016

join us

join us
klik

FSLDK INDONESIA

FSLDK INDONESIA
Klik gambar