Terbaru

Puaskah Dia?

Written By Ldk Unrika on Jumat, 05 Juni 2015 | 21.35

Kala senja saat aku hendak menutup cafeku, milik orang tuaku tepatnya. Seorang anak datang dan menggunakan Telphon umum koin yang ada di pojokan. Aku handak menghalangnya menggunakan karena memang sudah mau tutup tapi munkin dia hanya sebentar dan aku membiarkannya. 
Cafe sudah sepi, hanya ada aku dan anak itu sehingga apa yang dibicarakan semuanya bisa aku dengar termasuk suara orang yang dihubunginya.
"Selamat pagi nyonya, apa anda pemilik rumah mewah yang ada di ujung blok?"
"Ya, saya sendiri. ada apa?"
"Apakah anda membutuhkan karyawan untuk bersih-bersih dirumah anda?. Jika benar, saya bisa mengerjakannya." Anak ini rupanya sedang mencari pekerjaan.
"Terimakasih, tapi kami sudah punya pembantu yang mengerjakannya." 
"Saya bisa mencuci mobil, membersihkan kolam, dan kandang ternak" anak tersebeut mencoba meyakinkan. 
"Tidak terima kasih, karyawan kami sudah mengerjakannya." Orang yang dihubungi anak itu kembali menolak.
"Saya juga bisa memotong rumput dan menghias taman. Saya akan mengerjakan semua yang diminta dengan sebaik-baiknya." Anak kecil itu masih terus mencoba meyakinkan. Sepertinya ia sungguh-sungguh butuh sebuah pekerjaan. aku jadi agak kasihan padanya.
"Terima kasih tapi kami sudah punya karyawan, silahkan mencari ditempat lain saja." sambungan kemudian terputus dan anak itu turun dari kursi yang ia duduki. Aku merasa iba dan menghampirinya.
"Kamu butuh pekerjaan? kamu bisa bekerja disini." Tawarku pada sang anak. Aku rasa ia bisa menjadi salah pegawai di cafe ku.
"Tidak terimakasih, saya sudah ada pekerjaan." Jawab anak itu. padahal aku baru saja mendegarkan ia sedang mencari pekerjaan.
"Bukannya kamu sedang mencari pekerjaan tadi?" 
"Yang aku telfon adalah majikannku. Aku hanya ingin mengetahui apakan dia puas dengan pekerjaanku. Jika saja dia tidak puas, mungkin dia sudah mencari penggantiku." Demikian jawaban sibocah kecil. meski hanya pegawai rendahan dan masih bocah, ia begitu loyal menjaga kepercayaan majikannya. Bahkan ia sampai mencari tahu apakan majikannnya puas dengan pelayanannya. Aku merasa disindir, meski cafe ini milik orang tua sendiri, tapi aku tak pernah tahu apakah orang tuaku puas dengan apa yang sudah aku kerjakan. Aku mungkin hanya asal kerja tanpa pernah peduli apakah yang mempekerjakanku puas.

Bendahara LDK UNRIKA (2014-2015)



Comments
0 Comments

0 komentar :

Posting Komentar

Kalam

Kalam
Edisi 28 April 2016

join us

join us
klik

FSLDK INDONESIA

FSLDK INDONESIA
Klik gambar