Terbaru

(ESSAY) SATU AKTIFIS UNTUK SATU RT

Written By Ldk Unrika on Minggu, 31 Mei 2015 | 08.56

Salah Pilih Ladang dan Bekerja Tidak Cerdas
Puluhan organisasi kemahasiswaan eksis di bumi Indonesia. Saling unjuk gigi, kadang adu taring, sabotase penuh intrik menghiasi perang dingin yang anehnya terjadi diantara mereka. Entah mengapa kadang kita merasa perlu kembali kemasa dimana para aktifis diculik dan dibunuh. Tapi itulah yang membuat kita satu. Perlukah itu semua agar kita bisa bekerja dengan cerdas?.
Para aktifis  terlahir setiap tahun ajaran baru. Tak ketinggalan para aktifis yang harus kita masukan dalam tanda kutip pembahasan kita. Aktifis dakwah. Terciptanya para aktifis dakwah (kita) tentunya adalah untuk menciptakan peran-peran aktifis yang berkarakter islami.
Kita sering dengar pengalihan isu. Dan yang mencengangkan adalah kita masuk dalam permainan pengalihan isu ini. kita bahkan tidak begitu tahu isu mana yang digunakan untuk mengalihkan isu yang lain. Ketika kita orang-orang daerah justru turut campur secara berlebihan dalam kasus nasional yang membuat kita menjadi jakartasentris. Kita kemudian terlupa untuk menggarap tanah tempat kita berdiri.
Dalam buku menikmati demokrasi, diawal-awal lembarannya Annis Matta menulis berhentilah sejenak, agar kita beriman. kita dapat menafsirkan maksud kata-kata ini dengan cerdas dan bijaksana. Apakah kita tidak jenuh dengan pekerjaan-pekerjaan diluar kapasitas kita, yang ketika kita mencoba bergelut didalamnya dan tidak ada hasil bahkan progres yang signifikan. Kita bahkan tak menikmati proses. Lalu perubahan apa yang hendak kita capai Ibarat seorang petani, kita seperti sedang mencagkul disaat musim hujan hendak berakhir dan manabur benih disaat kemarau baru saja datang, pekerjaan kita gagal karena perhitungan tidak cerdas. Sudah terlalu banyak waktu yang kita buang untuk sekedar coba-coba padahal kita bisa lebih dari sekedar pemanasan. Terlalu banyak maklum yang melemahkan evaluasi kita.
Kembali kepada kutipan anis matta. Berhentilah sejenak agar kita beriman. Ada 3 kata kunci, berhenti, sejenak, dan beriman. Berhenti dari apa? Jika berhenti mengapa sejenak. Kenapa perhentian ini bertujuann agar kita beriman?.
Rutinitas berat seperti memikirkan isu negara membuat kita jenuh? Sadarkah kita bahayanya jenuh itu? Lihatlah peluang, ketika ada celah ambillah waktu untuk berhenti dan menyayangi hati kita dari mati semangat. Berhenti disini bukan berarti kita berhenti total dari pergerakan. Kita hanya berhenti dari permainan berskala besar. Kita akan refresing pada permainan level-level bawah. Kita perlu merasakan kembali keberhasilan berjuang yang sudah lama seakaan-akan semu ketika kita bermain isu negara. Walau terlihat sepele, permainan-permainan kecil yang sanggup kita “makan” akan menyuguhkan kita euphoria keberhasilan yang akan mengangkat moralitas kita. Mengingatkan dan meyakinkan kita bahwa kita bisa berhasil dalam berjuang. Lagipula kita perlu membuktikan reputasi seorang aktifis yang sudah terbiasa dengan isu-isu negara. Bagaimana jika kemampuan kita digunakan untuk menangani sebuah ekosistem yang skalanya lebih kecil. Skala RT (Rukun Tetangga).
Jangan tertawa dan menyepelekan test ini. ketika kita sibuk memperbaiki sebuah atap tanpa kita sadari fondasi rumah kian lapuk dan menuju kehancuran, pada akhirnya atap yang kita percantik ikut roboh bersama seluruh bagian rumah yang kita idam-idamkan. Inilah perumpamaannya, ketika kita sibuk dalam isu nasional. BBM, Freeport, menggulingkan presiden dan lain sebagainya. Sementara kita sibuk diatas sana, narkoba dan prostitusi sedang bermain dengan anak-anak kecil di lingkungan rumah kita. Mari turun gunung, sudah saatnya kita pulang kampung. Dikampung ada lading kecil untuk kita garap. Ladang kecil yang sudah kita tinggalkan lama.

PEMBAHASAN
Filosofi bermain game pokemon
Saya pernah bermain game pokemon dan tak bisa menjutkan pada sebuah level dikarenakan ada monster tertidur di dermaga yang harus saya lewati. Satu-satunya cara agar bisa lewat adalah dengan membangunkan monster itu menggunakan ramuan tertentu. Ramuan itu hanya bisa didapatkan di padang yang jalan masuknya tertutup oleh pohon kecil. Pohon itu harus disingkirkan tapi saya tidak mempunyai gunting pemangkas. Gunting itu hanya bisa saya dapatkan pada level tertentu dengan mengikuti misi yang sudah ditentukan. Sayangnya misi itu sudah terlalu jauh dan tidak lagi terdeteksi oleh saya. Satu-satunya cara agar saya bisa merasakan menamatkan game ini adalah dengan memulai lagi dari awal dan bermain dengan teliti agar level-level yang perlu saya selesaikan tidak terlewatkan.
Kita pernah mencapai sesuatu tahap yang tinggi tapi kemudian harus terhenti karena kita tidak cukup kemampuan untuk melanjutkan. Harusnya kita bisa jika kita cukup belajar dari hal-hal kecil sebelumnya, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kecil sebelumnya.
Soekarno pernah bilang berikan aku sepuluh pemuda maka akan aku goncang dunia. Jutaan aktifis tercipta lalu mengapa negeri ini tak kunjung berubah? Kita tidak sedang membahas pergerakan mahasiswa sebagai wujud program kerja yang berkesinambungan. Tapi kita sedang membahas kerja-kerja aktifis dakwah sebagai agen perubahan. Agen merupakan individu yang mampu bergerak sendiri namun masih dalam kontrol jama’ah serta menjadi katalisator dalam sebuah pergerakan yang bersifat kolektif. Jama’ah harus mulai memetakan masalah dan menerjunkan agen-agen terbaiknya pada titik-titik lokasi. Agen-agen yang membereskan kasus-kasus grass root.

Satu aktifis untuk satu RT
Lingkungan kita haus sentuhan, terlihat dari statisnya kepedulian masyarakat yang kian terjerumus kedalam sikap individualisme. Statisnya mereka di  barengi dengan arus perubahan yang dinamis. Dan era sosmed menjadi katalisatornya. Sebenarnya kasus-kasus lingkungan tak bisa dianggap sepele. Kasus-kasus lingkungan adalah kasus yang sesungguhnya membangun masalah besar negara ini. ketika negara ini darurat narkoba, sumber masalahnya adalah meningkatnya perokok muda di lingkungan. Ketika prostitusi merambah ke gedung DPR itu dimulai  dari pergaulan bebas yang perlahan didoktri oleh sinetron GGS setiap magrib di rumah-rumah. Namun semua itu tidak kita sadari. Kita dialihkan isu-isu nasional. Sehingga moral bangsa luput dari fokus dan agenda kerja kita. Agen pemuda, turun ke tingkat RT dan memastikan tempat itu aman dan teliti menjaganya. Sudah saatnya para aktifis menyebar dan menebar manfaat dengan pergerakan cerdas.
Secara singkat. Jika seorang aktifis memang dibutuhkan untuk pekerjaan utama sebagai agen perubahan negara, maka tidak ada salahnya jika ia mengambil pekerjaan sampingan sebagai agen perubahan tingkat RT.
Seorang aktifis dapat menguasai satuRT dalamm 4 bulan, kemuian 4 aktifis akan butuh waktu yang sama untuk menguasai satu RW. Satu organisasi kepemudaan juga butuh waktu yang sama untuk menguasai satu kecamatan dan 5 organisasi kepemudaan islam sudah bisa menguasai satu kota batan juga dalam waktu yang sama.

KESIMPULAN
Jika seorang aktifis sudah terbiasa menggebrak pintu istana kepresidenan, maka sesekali ia harus pulang kampung sejenak dan menggarap lahan kecil yang sudah lama ia tinggalkan. Percuma jika seorang aktifis menjadi singa kelaparan di kampus tapi di lingkungan tempat ia tinggal, ia hanya kucing Persia yang butuh perawatan manja.


Penulis : Saiful Karama Teibang
Ketua Remaja Masjid Alif
Staf Humas LDK UNRIKA
Comments
0 Comments

0 komentar :

Posting Komentar

Kalam

Kalam
Edisi 28 April 2016

join us

join us
klik

FSLDK INDONESIA

FSLDK INDONESIA
Klik gambar