Terbaru

Rohingya, Riwayatmu Kini

Written By Ldk Unrika on Sabtu, 30 Mei 2015 | 16.30

“...jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan...” (Qs: al-Anfaal: 72)

Kita semua tentu merasa sedih melihat apa yang terjadi terhadap saudara se‘aqidah kita,kaum muslimin Rohingya. Bagaimana perlakuan keji yang mereka terima dari suatu kaum beragama yang “katanya sih ajarannya tuh welas-asih, cinta damai”. Tapi bagaimana kita melihat fakta di lapangan?. 

Meskipun pada awalnya media-media nasional maupun internasional berusaha menutup mata selama ini, akan tetapi ketika tragedi ini telah semakin mencapai klimaksnya, akhirnya pemberitaan-pemberitaan terkait dengan penderitaan yang dialami muslimin Rohingya mulai dipublish.

Saya selalu merasa sedih, mungkin sama juga dengan pembaca sekalian. Bagaimana gambaran keadaan mereka yang kelaparan berhari-hari di atas kapal tanpa kejelasan tentang nasib mereka. Anak-anak, dewasa, pria dan wanita, terpaksa bergumul penuh sesak, di dalam sempitnya kapal rapuh yang tampak oleng karena beban yang berlebih. Baru tadi saya melihat di salah satu stasiun televisi lokal tentang rekaman keadaan masyarakat Rohingya saat terapung-apung di atas kapal, tanpa kapten kapal, melambai-lambaikan tangan ke arah kameramen, tangan memeragakan suapan ke mulut pertanda rasa lapar yang teramat sangat, berteriak, memelas, memohon pertolongan. Ketika dilempar beberapa bahan makanan dari udara oleh helikopter yang disebut berasal dari Filiphina, ada yang jatuh ke kapal sehingga para penumpang saling berebut, ada pula yang jatuh di laut menyebabkan beberapa lelaki langsung melompat ke laut meraih makanan. Beberapa dikabarkan ada yang tewas karena tenggelam. Nurani siapa yang tidak miris melihatnya. 

Semakin lengkap penderitaan mereka ketika mereka harus mengalami kenyataan pahit ditolak di beberapa negeri jiran. Sudahlah di negeri sendiri disiksa, didzalimi, diusir. Mengungsi ke negara lain di tolak. Kemana HAM yang selama ini di gaungkan?? Kemana yang katanya toleransi antar-agama? Kemana dewan PBB? Sungguh ironi.

Rohingya, Riwayatmu kini.
Etnis Rohingya, yang sejak 1948 sampai sekarang tidak mendapatkan hak-hak mereka sebagai manusia. Di tahun 1982 ketika pemerintahan Ne Win memberlakukan undang-undang Kewarganegaraan, 800.000 orang Rohingya ditolak kewarganegaraannya. Hal ini kemudian menjadi pemicu konflik sektarian.

Setelah konflik yang terjadi antara muslim Rohingya dan Budha Rakhine di Juni 2012 lalu hingga sekarang, kehidupan muslim Rohingya dalam keadaan rusuh dan kritis. Mereka diteror, dianiaya, bahkan dibunuh oleh militer. Sampai mereka dipaksa meninggalkan Myanmar, mengarungi lautan hanya berbekal kapal kayu dan sedikit bekal. Ratusan ribu orang mati di atas kapal maupun tenggelam.

Apakah kesalahan mereka karena mereka adalah muslim? Apakah mereka tidak berhak hidup tenang sebagaimana yang lain? Tentu saja tidak saudaraku. Allah telah memuliakan umat Islam dan mereka muslim merupakan umat terbaik yang ada di muka bumi ini sebagaimana Firman-Nya dalam Qs. ali-‘imron:110 . 

Lalu mengapa umat yang dimuliakan Allah ini hidup dalam kehinaan, ketakutan, kegentingan, serta kekurangan? Jawabnya adalah karena tidak ada seorangpun yang menjadi penjaga mereka. Tidak ada pemimpin yang menerapkan hukum Allah untuk menghormati manusia, dan menjamin pemenuhan kebutuhan hidupnya, melindungi nyawanya. Padahal Rasul bersabda: 
“Sesungguhnya hilangnya dunia (dan seisinya) benar-benar lebih ringan bagi Allah ketimbang terbunuhnya seorang Muslim” (Hr. At-Tirmidzi) 

Maka bagaimana dengan hilangnya ribuan bahkan jutaan jiwa melayang?

“Dan mereka menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang-orang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (Qs. Al-Buruj : 8)

Tetapi bagaimana sikap negara-negara tetangga? Tentu kita sudah tahu. Termasuk negeri Indonesia yang mayoritas muslim. Pemerintah kita tidak menerima pengungsi yang se‘aqidah se-agama sebagaimana Malaysia maupun Thailand. Mereka tidak peduli dengan nasib saudaranya seiman di pengungsian. Nasionalisme telah mematikan rasa persaudaraan Islam yang telah ditetapkan oleh ‘Aqidah Islam, “innamal mu’minuu na ikhwah”. 

Organisasi internasional yang selama ini dipercaya dapat menyelesaikan sengketa-sengketa serupa kenyataannya tidak menyelesaikan masalah apapun. Sebagaimana halnya yang terjadi di Palestina, Afghanistan,dan lain-lain. Genosida tetap terjadi, agresi militer tetap bergerak, menghantam rakyat sipil yang tak berdosa.

Satu-satunya harapan hanya pada Islam.

Sungguh, tidak ada solusi untuk tragedi ini kecuali dengan eksisnya Khilafah di muka bumi. Dengan Khalifah umat Islam, dia akan melindungi rakyatnya yang muslim maupun non-muslim. Dia akan membela orang yang tertindas di dunia apapun bangsa dan agama mereka. Kita bisa melihatnya dari sejarah bagaimana pembebasan heroik yang dilakukan Shalalahuddin al-ayyubi di Palestina, dst. Mengapa kami katakan demikian solusinya? Karena solusi tidak cukup hanya dengan melakukan bantuan penggalangan dana santunan, pembekalan makanan ataupun tempat tinggal ataupun berdo’a. Karena akar masalahnya adalah mereka tidak punya pelindung dan pemimpin yang menjaga jiwa-jiwa dan kehormatan mereka, menjamin pemenuhan kebutuhan hidup mereka.
ababBahkan lebih jauh dari itu, bahwa kewajiban untuk menerapkan hukum Allah secara menyeluruh merupakan kewajiban yang sangat mendesak. Syari’at Islam akan memiliki wadah penerapannya yang sempurna dalam bingkai Khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah (Khilafah yang sesuai dengan manhaj kenabian). wallahua’lam bish- shawab.

  

Comments
0 Comments

0 komentar :

Posting Komentar

Kalam

Kalam
Edisi 28 April 2016

join us

join us
klik

FSLDK INDONESIA

FSLDK INDONESIA
Klik gambar