Terbaru

Home » , , , , » (OPINI) Pemuda Sebagai Kubu Oposisi konstruktif demokratis dalam Terapan MEA 2015

(OPINI) Pemuda Sebagai Kubu Oposisi konstruktif demokratis dalam Terapan MEA 2015

Written By Unknown on Sabtu, 30 Mei 2015 | 02.01

Gerakan oposisi dewasa ini cenderung dipandang sebagai kelompok kalah pemilu yang memiliki tujuan mebunuh rasa kepercayaan rakyat terhadap kubu pemerintah. Sehingga bagus tidak bagus kinerja dan program pemerintah tetap akan dicari kesalahannya. Di Indonesia budaya ini berkembang membusuk. Koalisi dan oposisi adalah masalah kepentingan saja. Hari ini mereka koalisi dan saling puji. Esok mereka oposisi dan saling caci. Maka penafsiran oposisi perlu dirubah.
Gerakan oposisi haruslah merupakan gerakan yang dibangun untuk melawan kebijakan yang berpotensi pada penindasan dan ketidak adilan. Gerakan oposisi idealnya hadir sebagai gerakan pengawasan independen yang secara objektif menunjukkan kealpaan negara untuk menyantuni kaumnya. Sekaligus membimbing negara untuk kembali pada ideologi yang utuh. Merawat rakyat untuk keadilan dan kesejahteraan sosial.
Marcus Mietzner merumuskan metamorfosa oposisi yang berkembang dalam 4 fase. Fase pertama adalah Oposisi seremonial sebagaimana yang dialami negara-negara-negara eropa akhir abad 18. Kedua oposisi destruktif oportunitis, bahwa  kelompok yang kalah dalam sebuah pemilu akan bertugas untuk merugikann pemerintahan.ketiga oposisi fundamentalis-ideologis, kelompok ini bukan hanya ingin menghancurkan dan meraih kekuasaan, tetapi juga menggantikan system ketatanegaraan yang ada. Lalu yang terakhir adalah oposisi konstruktif-demokratis. Konsep oposisi demokratis disini lebih menekankan pada keberlangsungan penegakkan nilai-nilai demokrasi dengan meletakkan kehendak bersama lebih penting dari pada kepentingan kelompok atau golongan.
Dalam menghadapi terapan MEA 2015, perlu di produksi sebuah kelompok oposisi yang bertugas mengawasi regulasi. Indonesia menghadapi MEA dengan berbagai ketidak siapan. Ketidak siapan ini berpotensi menjadikan Indonesia sebagai bulan-bulanan kompetisi antara bangsa ASEAN. Kendati beberapa negara tetangga juga menyuarakan nada pesimis serupa setidaknya sistem negara mereka tidak dijangkit oleh kleptokrasi yang akut seperti Indonesia. Pada akhirnya bukan negara yang unggul disisi sumber daya alam lah yang akan unggul, melainkan negara yang memiliki sumber daya manusia yang tepat untuk menangani pekerjaan-pekerjaan berat. Sumber daya manusia yang berkompeten dan bersih. Untuk mewujudkannya dibutuhkan satu kelompok oposisi yang bebas dari interfensi, bergerak bebas, dinamis, menguasai data serta informasi, mempunyai skemata kekinian, dan mempunyai integritas perlawanan yang militan. Dari semua kualifikasi diatas pemuda adalah kelompok yang paling sesuai.

Menciptakan model kelompok oposisi pemuda yang memiliki daya tawar
Dinamika politik negara telah membentuk paradigma meluas tentang oposisi ini sendiri, seperrti yang telah disinggung sebelumnya bahwa gerakan oposisi dewasa ini dipandang sebagai gerakan perlawanan terhadap kubu pemenang pemilu. Yang dalam kerjanya selalu mencari kelemahan dan kesalahan kubu pemerintah. Tidak selamanya kubu oposisi harus bertindak demikian. Demikian halnya juga sikap yang harus diambil oleh pemuda dalam membentuk gerakan oposisi. Konsep oposisi konstruktif-demokratis adalah tipe pergerakan yang dapat merubah cara pandang terhadap kelompok oposisi. Dan dalam menghadapi terapan MEA 2015 kelompok oposisi yang demikian akan sangat membantu negara dalam mengawasi berlangsungnya MEA. Kerja kelompok oposisi konstrutif-demokratis juga lebih luas yakni dengan melakukan evaluasi dan menawarkan alternatif selama MEA berlangsung.
Perlu dimodelkan kerja kelompok oposisi ini agar bisa sesuai dengan harapan. Dan berikut adalah tahapan strateginya.

1.      Membangun Gerakan Everyday Oposision
Gerakan ini dimaksudkann untuk menyebarkan paham oposisi dalam aktifitas sehari-hari masyarakat. Oposisi ini tidak akan hadir dan dikenal sebagai gerakan oposisi namun sebagai kelompok merakyat yang meningkatkan pengetahuan serta kepekaan masyarakat terhadap kondisi sesungguhnya yang tengah mereka hadapi. Sejauh ini sosialisasi terhadap terapan MEA 2015 masih sangat tidak maksimal bahkan tidak menyentuh target yang seharusnya. Ini akan menjadikan masyarakat kaget ketika MEA benar-benar berlangsung. Ketika pasar-pasar UKM yang selama ini saja kurang optimal meraup keuntungan justru harus bersaing dengan produk-produk luar yang memiliki daya tarik bagi konsumen lokal. Siap tidak siap harus siap sudah menjadi vonis bagi kita semua namun selama ini belum ada pemantapan yang akan membuat kita benar-benar siap. Mau tidaak mau proses learning by doing harus kita lakukan ditengah-tengah berlangsungnya MEA.
Peran pemuda dalam menggalakan gerakan Everyday oposision adalah dengan melakukan pencerdasan tentang MEA 2015 secara meluas. Masyarakat akan kritis terhadap isu-isu seputar MEA dan secara perlahan akan kian berbenah diri dan semakin siap menjalankan MEA. Isu-isu yang menjadi konsumsi dalam hal ini adalah isu kepentingan mereka (masyarakat) yang berkenaan dengan MEA.

2.      Membangun Basis bersama Pengusaha besar Dan UKM
Kebanyakan gerakan oposisi belum menyertakan kelompok pengusaha sebagai mitra pergerakan. Dan bahkan dalam beberapa kasus kelompok oposisi justru menjadi oposisi kelompok pengusaha. Dan yang lebih memprihatinkan kelompok pengusaha justru dijadikaan pemain kunci dalam beberapa sengketa kelompok oposisi dan pemerintah. Atau bahkan kelompok pengusaha (besar) menjadi makelar kasus yang mengadu domba pemerintah dan kelompok oposisi.
Kepentingan pengusaha (baik pengusaha besar maupun UKM) dalam MEA 2015 sangatlah besar, Motivasi peningkatan keuntungan ekonomi adalah salah pilar utama diantara pilar-pilar MEA yang lainnya (politik dan keamanan, sosial serta budaya). Tentu pengusaha akan melakukan apa saja agar tetap eksis dalam ketatnya persaingan MEA 2015. Disinilah kesempatan bagi pemuda sebagai kelompok oposisi (konstruktif demokratis) untuk membangun basis simbiosis. Pengusaha dan pemuda dapat membangun dialog yang kondusif dan sehat dalam membentuk strategi bersama dalam menjalankan MEA sehingga semangat  kesejahteraan yang berkeadilan bisa dibangun.

3.      Menghadirkan tokoh pemuda
Sebuah gerakan kendati merupakan aktifitas kolektif tentu perlu sekali mengusung sosok pemimpin tunggal untuk dijadikan tokoh. Dalam hal ini pemuda memiliki keuntungan lebih. Kehadiran pemuda sebagai sosok pemimpin muda bisa melawan nuansa gerontokrasi yang memadati kancah pergerakan. Kejenuhan akan muka lama bisa dimanfaatkan pemuda untuk menghadirkan sosok muda dan baru yang meski belum banyak memiliki pengalaman namun masih memiliki raport bersih. Pemuda juga dinilai memiliki skemata yang baik karena belajar dari referensi lama sekaligus ilmu kekinian. Pergerakan pemuda yang enerjik dan militan sejauh ini mendapat simpatik yang baik dari publik.
Tentu pemimpin yang diusung pemuda dalam konsep terapan MEA 2015 adalah sosok yang berkompeten terhadap tema. Mampu konsisten dan fokus memantau berjalannya MEA ini. Konsisten dalam artian tidak mudah jenuh karena menjadi gerakan oposisi kostruktif demokratis memiliki kerja ganda selain sebagai kelompok oposisi juga menjadi bagian dari perancang konstruksi pembangunan bangsa yang berperan aktif. Ini tentu akan menguras waktu, tenaga, fikiran bahkan perasaan. Fokus dalam artian tidak terlalu menangani banyak hal agar banyak waktu untuk konsentrasi mengawasi berjalannya MEA.
Pepatah mengatakan sambil menyelam menangkap ikan. Artinya jika tokoh pemuda bersama gerakan ini berhasil selama MEA, maka kesempatan bagi kelompok pemuda akan jauh lebih terbuka kedepannya.

4.      Menawarkan alternative ideal
Dalam beberapa kasus, kelompok oposisi cenderung anti produktif. Dengan kata lain hanya mampu protes tanpa mampu menawarkan solusi atau bahkan enggan melakukan kerja nyata. Mutlak tujuan oposisi yang demikian ini berorientasi pada penggembosan belaka. Tentu akan memperburuk keadaan.

Sebagai kelompok oposisi konstruktif-demokratis pemuda harus mampu menghadirkan tawaran-tawaran solusi yang membangun dan multi alternative. Pemuda harus memantau berjalannnya MEA karena bisa saja akan ada banyak evaluasi diberbagai hal. Masalah demikian seakan tak terhindarkan mengingat kita menyoongsong MEA dengan segala ketidak siapan yang mengancam. Beberapa syarat yang perlu di ingat dalam setiap ajuan alternative para pemuda adalah setiap alternative mampu dijelaskan, memiliki tahapan yang jelas serta pemuda sendiri wajib berkomitmen terlibat aktif dalam menjalankannya jika alternatife yang diajukan menjadi pilihan. 

Comments
0 Comments

0 komentar :

Posting Komentar

Kalam

Kalam
Edisi 28 April 2016

join us

join us
klik

FSLDK INDONESIA

FSLDK INDONESIA
Klik gambar